Makalah filsafat bahaa positivisme
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kehidupan
kita sekarang ini sudah sangat jauh dari hukum-hukum alam, yang digantikan oleh
hukum-hukum buatan manusia sendiri yang sangat egoistis dan mengandung nilai
hedonis yang sangat besar, sehingga kita pun merasakan betapa banyaknya bencana
yang melanda diri kita. Etika hubungan kita yang humanis dengan tiga kompenen
relasional hidup kita sudah terabaikan begitu jauh, jadi jangan harap hidup
kita di masa mendatang akan tetap lestari dan berlangsung harmonis dengan alam.
Makalah
ini kami susun berdasarkan Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum, dengan sub bahasan
“ Filsafat Positifisme ”. Makalah ini dititikberatkan pada pemikiran-pemikiran
para folosof aliran positivisme.
1.2 Tujuan Pembahasan
Tujuan dari
penyusunan makalah ini adalah untuk memaparkan perkembangan-perkembangan
filsafat modern pada saat lahirnya filsafat positifisme. Selain itu, makalah
ini bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi pemahaman kita mengenai filsafat
pada umumnya, dan filsafat positivism pada khususnya. Pada filsafat ini nanti
akan kita bahas mengenai sejarah dari positivisme, dan tokoh-tokoh penganutnya.
Selain itu juga akan kita bahas berbagai sub bab/pokok yang berkaitan dengan
positivism. Sehingga diharapkan setelah membaca makalah yang kami susun
ini,kita semua bisa mengetahui tentang positivisme itu sendiri dan dapat juga
dapat mengambil hal positif untuk diplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
1.3 Rumusan Masalah
A. Apa pengertian positivisme ?
B. Apa ajaran yang ada dalam positivisme ?
C. Pembagian
tahap pemikiran manusia ?
E. Siapa saja tokoh filsafat positivisme ?
F. Hakekat
filsafat positivisme ?
G. Objek
filsafat positivisme ?
H. Metode filsafat positivisme ?
I. Fungsi
filsafat positivisme ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN
POSITIVISME
Positivisme
diturunkan dari kata positif, dalam hal ini positivisme dapat diartikan sebagai
suatu pandangan yang sejalan dengan empirisme, menempatkan penghayatan yang
penting serta mendalam yang bertujuan untuk memperoleh suatu kebenaran
pengetahuan yang nyata, karena harus didasarkan kepada hal-hal yang
positivisme. Dimana positivisme itu sendiri hanya membatasi diri kepada
pengalaman-pengalaman yang hanya bersifat objektif saja. Hal ini berbeda dengan
empirisme yang bersifat lebih lunak karena empirisme juga mau menerima
pengalaman-pengalaman yang bersifat batiniah atau pengalaman-pengalaman yang
bersifat subjektif juga.[3]
B.AJARAN-AJARAN DALAM
POSITIVISME
1. Dalam alam terhadap hukum yang dapat diketahui.
2. Dalam alam penyebab benda-benda tidakdapat diketahui.
3. Setiap pernyataan yang pada prinsipnya tidak dapat
direduksikan ke pernyataan sedehana mengenai fakta, baik khusus maupun umum.
4. Hanya berhubungan antara fakta yang dapat diketahui.
5. Perkembangan intelektual merupakan sebab utama perubahan
social.
C.TAHAP-TAHAP
PEMIKIRAN MANUSIA
Menurut
comte perkembangan manusia dibagi kedalam 3 tahap perkembangan yaitu yang
pertama tahap teologik, kemudian berkembang ke tahap metafisika, dan akan
berkembang ketahap yang terakhir yaitu tahap positif.[4] Dan kesemua hal itu akan dijelaskan lebih
lanjut dengan beberapa pernyataan dibawah ini:
1. TAHAP TEOLOGIK
Tahap teologik bersifat melekatkan manusia kepada selain manusia seperti alam
atau apa yang ada dibaliknya. Pada zaman ini atau tahap ini seseorang
mengarahkan rohnya pada hakikat batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama,
dan tujuan terahir segala sesuatu. Menurutnya benda-benda pada zaman ini
merupakan ungkapan dari supernaturalisme, bermula dari suatu faham yang
mempercayai adanya kekuatan magis dibenda-benda tertentu, ini adalah tahap
teologis yang paling primitif. kemudian mempercayai pada banyak Tuhan, saat itu
orang menurunkan hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari
suatu kekuatan adikodrati, yang melatar belakanginya, sedemikian rupa, sehingga
tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri. Dan kemudian menjadi
monoteisme ini adalah suatu tahap tertinggi yang mana saat itu manusia
menyatukan Tuhan-Tuhannya menjadi satu tokoh tertinggi. Ini adalah abad
monarkhi dan kekuasaan mutlak. Ini menurutnya adalah abad kekanak-kanakan.[5]
2. TAHAP METAFISIK
Tahap metafisik sebenarnya merupakan suatu masa dimana disini adalah masa
perubahan dari masa teologik, dimana pada masa teologik tersebut seseorang
hanya percaya pada satu doktrin saja dan tidak mencoba untuk mengkritisinya.
Dan ketika manusia mencapai tahap metafisika ia mulai bertanya-tanya dan mulai
untuk mencari bukti-bukti yang nyata terhadap pandangan suatu doktrin. Tahap
metafisik menggunakan kekuatan atau bukti yang nyata yang dapat berhubungan
langsung dengan manusia. Ini adalah abad nasionalisme dan kedaulatan umum
sudah mulai tampak, atau sring kali tahap ini disebut sebagai abad remaja.[6]
3. TAHAP POSITIF
Tahap
positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada tahap ini
seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan atau pengetahuan yang
mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Pada tahap ini orang
berusaha untuk menemukan hukum dari segala sesuatu dari berbagi eksperimen yang
pada akhirnya akan menghasilan fakta-fakta ilmiah, terbukti dan dapat
dipertanggung jawabkan. Pada tahap ini menerangkan berarti: fakta-fakta yang
khusus dihubungkan dengan suatu fakta umum.[7]
3 tahap ini menurut Comte adalah suatu tahap yang berlaku bagi perkembangan
rohani seluruh umat manusia, bahkan berlaku bagi setiap masing-masing individu
itu sendiri. Ketika seorang masih perpandangan teologis berarti ia masih
berfikiran kuno/ketinggalan zaman walaupun ia hidup dizaman yang modern. Dan
ketika orang berfikiran realitas/nyata maka dia dapat sebagai seorang yang
modern walaupun dimana saja mereka berada. Pendapat ini jika dilihat dari sudut
pandangnya akan lebih menjurus kepada tahap dalam keyakinan hati
manusia.
Oleh
karena itu baginya Teologi dan filsafat barat abad tengah merupakan pemikiran
primitive. Karena masih pada taraf pertanyaan tentang teologi dan metafisis.[8]
Pengetahuan
positivisme mengandung arti sebagai pengetahuan yang nyata, berguna, tertentu
dan pasti.[9] Akal dan ilmu menurut Comte harus saling
berhubungan karena ilmu yang menurutnya serapan dari sesuatu yang positif
tetaplah harus memakai akal dalam pembandingannya, dan disini etika telah di
anggap tinggi dalam heirarki ilmu.[10]
D.Dua fase filsafat positifistik
dua fase filsafat
positifistik dalam masyarakat terdapat dua fase yaitu statika social dan yang
selanjutnya adalah dinamika social yangakan lebih dijelaskan melalui pernyataan
dibawah ini:
1. Statika
Sosial adalah masyarakat sebagai kenyataan dengan kaidah-kaidah yang menyusun
tatanan social. Ini adalah saat dimana masyarakat mulai tersusun atau
terbangun.
2. Dinamika
social yang artinya masyarakat pada saat itu berada dalam penciptaan sejarahnya
dan mulai menanjak dalam kemajuannya.[11]
KEDUDUKAN ILMU PASTI
DAN PSIKOLOGI
Menurut
Comte ilmu pasti merupakan dasar dari filsafat karena ia memiliki dalil-dalil
yang bersifat umum dan paling abstrak. Sedangkan psiologi tidak diberi ruang
dalam system comte. Hal ini sesuai dengan pendapatnya bahwa manusia tidak akan
pernah menyelidiki diri sendiri.[12]
TINGKATAN AGAMA MENURUT
COMTE
Comte
telah menciptakan suatu kristianitas yang baru berdasarkan dirinya sendiri. Ia
membagi kedalam 3 agama:
1.
Agama yang pertama adalah penghormatan atas alam. Semua adalah Tuhan
2.
Agama yang kedua adalah penyembahan terhadap kaidah moral sebagai kekuasaan.
3.
Agama yang ketiga adalah kekuasaan yang tidak terbatas yang terungkap dalam
alam yang merupakan sumber dan akhir dari cita moral. Moralitas adalah hakikat
dari benda-benda.[13]
E.TOKOH-TOKOH DALAM FILSAFAT POSITIVISME
a). Auguste Comte (
1798 – 1857 )
August
Comte dilahirkan pada 1798 di Montpellier, Prancis. Pada umur belasan tahun ia
menolak beberapa adat kebiasan dari keluarganya yang katholik orthodox, yaitu
kesalehan dalam agama dan dukungan terhadap bangsawan. Ia belajar disekolah
politeknik di Paris dan menerima pelajaran ilmu pasti. Sesudah menyelesaikan
sekolahnya ia mempelajari biologi dan sejarah, dan mencari nafkah dengan
memberikan les matematika. Comte bekerja sama dengan Saint Simon untuk beberapa
tahun, tetapi kemudian berselisih faham dan Comte bekerja secara mandiri. Comte
berusaha untuk memperoleh gelar professor tetapi tidak berhasil.[2]Sebuah karya penting “ Cours de Philisophia
Positivie “ (Kursur tentang filsafat positif), ini berjasa dalam mencipta ilmu
sosiologi. Ia berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoieh
pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan
experiment. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat experiment-experiment
memerlukan ukuran yang jelas. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur
dengan meteran, berat dengan kiloan, dsb. Kita tidak cukup mengatakan api
panas, matahari panas, kopi panas. Ketika panas kita memerlukan ukuran yang
teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar-benar dimulai.
Jadi pada dasarnya positifisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri.
Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan
kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan experiment dan
ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positifisame itu sama dengan empirisme plot
rasionalisme. Hanya saja, pada empirisme menerima pengalaman batiniyah,
sedangkan pada positivisme membatasi pada perjalanan objektif saja.
b). H. Taine ( 1828 – 1893 )
Ia mendasarkan diri pada positivisme dan ilmu jiwa, sejarah, politik, dan
kesastraan.
c). Emile Durkheim ( 1852 – 1917 )
Ia menganggap positivisme sebagai asas sosiologi.
d). John Stuart Mill ( 1806 – 1873 )
Ia adalah seorang filosof Inggris yang menggunakan system positivisme pada ilmu
jiwa, logika, dan kesusilaan.
F. HAKEKAT FILSAFAT POSITIVISME
Apa sebenarnya hakekat dari filsafat positif ini ?
mengapa memiliki hakekat seperti itu ? Dan bagaimana melaksanakan hakekat tersebut ? Ditinjau dari keseluruhannya, filsafat positivisme:
1. Dari segi karakteristiknya mengatakan bahwa ilmu hanya merupakan pengetahuan yang sahih dan fakta hanya merupakan objek pengetahuan yang mungkin.
2. Ditinjau dari metodenya, menurut Nicolla Abbagano sebagaimana disadur oleh Paul Edwards dalam The Encyclopedia of Philosophy (1972
: 414) mengatakan bahwa filsafat ini memiliki metode yang tak berbeda dengan sains. Dan karena itu task of philosophy is to find the general principles common to all the sciences.
3. Prinsip kerjanya menggunakan tata cara kerja Francis Bacon, yang
seorang Inggris yang berpandangan empiris.
4. Hakekat perkembangan dari filsafat ini ditunjang karena terjadinya revolusi industri. Dengan demikian, maka setiap terjadi revolusi sebenarnya merupakan kesempatan
untuk menghadirkan ide baru. Dalam kegiatan revolusi, orang pada kehilangan pegangan, dan kehadiran filsafat seperti positivisme ini
merupakan gin segar untuk menyejukan
situasi.
5. Secara mendasar
positivisme lebih mengutamakan fakta atau kenyataan, atau segala yang tampak.
Dengan kata lain, ditinjau dari segi
sasarannya adalah segala gejala. Kalau
demikian maka sebenarnya positivisme ini
mengabaikan hukum yang telah ada. Karena kehadiran hukum itu setelah gejala yang ada diolah, diklasifikasikan.
Di sini hakekat filsafat ini sebenarnya
kejelian dalam mengamati, dan ketajaman pengamatan dalam menyimpulkan hasil
pengamatannya. Oleh sebab itu, tak ayal lagi kehadiran suatu teori hanya mungkin apabila orang telah melihat gejala, dan
gejala tadi dipikirkan, sehingga diperoleh hukum-hukum. Berkenaan dengan itu apa bedanya dengan empirisme? Memang
keduanya memiliki kesamaan di samping perbedaan. Kesamaannya mengutamakan pengalaman. Sedangkan perbedaannya positivisme membatasi diri pada pengalaman-pengalaman
yang objektif, tetapi empirisme menerima pengalaman-pengalaman batiniah atau
pengalaman-pengalaman subjektif
(Hadiwiyono : 1980:110)
6. Ruang lingkup positivisme, sebenarnya ada dua saja, yaitu positivisme sosial dan positivisme evolusionary.
Mengapa dikatakan positivisme sosial, karena melihat
ciri utamanya masalah-masalah
sosial. Sedangkan mengapa dikatakan
positivisme evolusionary, karena keadaannya bersifat
teoritis. Dan karena itu, cara kerja dalam filsafat
positivisme ini sendiri memiliki perbedaan. Bagaimana
perbedaannya ? Yang satu
bersumber kepada peristiwa-peristiwa sosial dan yang lain bersumber kepada peristiwa-peristiwa
alam.
7. Untuk memahami filsafat positivisme ini, menurut Koento Wibisono (1983 : 37 - 38) perlu memahami pengertian positif, yang menurut beliau : (1)
Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang
bersifat khayal, maka pengertian positif
diartikan sebagai pensifatan yang nyata. Hal ini sesuai dengan ajarannya
yang menyatakan bahwa filsafat positivisme itu, dalam menyelidiki
objek sasarannya didasarkan pada kemampuan akal,
sedangkan hal hal yang tak dapat dijangkau oleh
akal tidak akan dijadikan sasaran penyelidikan.
(2) Sebagal lawan dari tidak bermanfaat, maka pengetian positif
diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang bermanfaat. Hal ini sesuai
dengan ajarannya yang menyatakan bahwa di
dalam filsafat positivisme, segala sesuatu harus
diarahkan kepada pencapaian kemajuan. (3)
Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu yang meragukan, maka pengertian positif, diartikan sebagai pensifatan sesuatu yang sudah pasti. Hal ini sesuai dengan ajarannya yang menyatakan bahwa
filsafat harus sampai pada suatu keseimbangan yang logis yang membawa kebaikan bagi setiap individu
dan masyarakat. (4) Sebagai
lawan atau kebalikan sesuatu yang
kabur, maka pengertian positif diartikan
sebagai pensifatan sesuatu yang (jelas) atau tepat, baik mengenai gejala-gejala yang nampak maupun mengenai apa yang sebenarnya
kita butuhkan, sebab cara
berfilsafat yang lama hanya
memberikan pedoman yang tidak jelas, dan hanya mempertahankan disiplin yang
diperlukan dengan mendasarkan
diri pada kekuatan adikodrati. (5)
Sebagai lawan atau kebalikan sesuatu
yang negatif, maka pengertian positif dipergunakan untuk menunjukkan sifat-sifat pandangan filsafatnya yang selalu menuju ke arah penataan atau penertiban.
G. OBJEK FILSAFAT POSITIVISME
Objek
filsafat ini dapat kita lihar dari segi matelnya dan f
ormanya.
1.Objek filsafat dari segi materi
dari filsafat positivisme ini berkaitan dengan Alam,
manusia, baru dengan Tuhan.
Objek forma ini dapat diketahui
dari hukum tiga tahap yang dikemukakan oleh August
Comte, yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap positif. Pada tahap
teologis menurut penafsiran Harun Hadiwiyono (1980 : 110-111) orang mengarahkan rohnya kepada hakekat batiniah.Tahap teologi ada tiga tahap lagi yaitu :
a) Tahap yang paling bersahaja atau primitif.
b) Tahap politeisme yaitu tahap percaya kepada dewa-dewa, dan
c) Tahap
monoteisme.
Ditinjau darisegi ajarannya, filsafat ini mengungkapkan mengenai peristiwa alam, biologi, fisika, sehingga NicolaAbbagnano sebagai penterjemah membagi positivisme ke dalam dua bagian
besar yakni positivisme sosial dan positivisme
evolusionary, maka dengan demikian objek filsafat
positivisme meliputi juga masalah-masalah kemanusiaan
dan kealaman.
2. Objek filsafat dari segi forma
Dari segi forma kedudukan
filsafat bisa dilihat mengenai upaya filsafat tersebut
dalam mencari keterangan yang sedalam-dalamnya
mengenai materi .atau objek filsafat tersebut, termasuk
didalamnya filsafat positivisme ini.
Berangkat dari positivisme ala Comte, Koento
Wibisono (1983 : 32) mengatakan bahwa : Auguste
Comte merupakan jembatan antara
rasionalisme Descartes dan empirisme
Bacon. Dikatakan demikdan karena Rene Descartes dan empirisme Bacon.
Dikatakan demikian karena Rene
Descartes sebagai peletak dasar filsafat modern serta penganut faham rasionalisme berpendapat bahwa ilmu pasti merupakan bentuk, kemana semua ilmu pengetahuan harus dijabarkan. Ini berarti
suatu monisme ilmu pasti, yang
dengan demikian batas-batas antara
ilmu yang satu dengan yang lain akan menjadi hilang, sebab semua pengertian dinyatakan
dalam dalil-dalil atau
rumus-rumus. Sebaliknya Francis Bacon,
yang menggunakan asas psikologik, yaitu hubungan antara manusia dengan dunia pengalaman. Ia membedakan tiga fungsi kejiwaan, yaitu ingatan, fantasi, dan pengertian. Bertolak dari ketiga pembagian kejiwaan itu, Bacon mengadakan pembagian
ilmu pengetahuan dan juga pembagian ilmu pengetahuan secara menyeluruh.
Objek lainnya dari Comte sesuai
dengan trinitas mengenai jenis keagamaan, maka objek filsafat
positivisme ini adalah : kemanusiaan, dunia, dan ruang. Obiek forma berdasarkan pendapat Bentham dan
Mills yaitu mengenai il-mu
pengetahuan eksakta. Mill mempersamakan
pikiran manusia sebagai objek yang dapat dipelajari, sebagaimana kita
mempelajari gejala alamiah.
Sedangkan objek forma positivisme
evolusionary adalah alam, lingkungan fisik dan
biologi. Keadaan tersebut diungkap mengenai hetroginitas dan
homoginitasnya. Bagaimana kemisterian dari alam
ini, merupakan salah satu objek dari filsafat
positivisme evolusionary. Sehingga sebagai contoh Spencer
menterjemahkan proses evolusi dalam pengertian gerak dan kesadaran, sehingga dapat ditafsirkan secara spiritualistik dan materialistik.
H. METODE FILSAFAT POSITIVISME
Menurut Koento Wibowo (1983 : 39) filsafat positivisme menggunakan metode pengamatan, percobaan dan perbandingan,
kecuali dalam menghadapi gejala dalam fisika sosial, digunakan metode sejarah.
Pengamatan
digunakan untuk mempelajari astronomi, kesemuanya
ini berkaitan dengan ukuran waktu dan adapun
untuk ilmu fisika disamping pengamatan juga digunakan percobaan, dalam
percobaan ini pengamatan tak ketinggalan.
Dalam mempelajari ilmu kimia disamping percobaan dan pengamatan, digunakan juga metode peniruan (artifisial). Dalam ilmu biologi menggunakan metode percobaan, yang disesuaikan dengan kompleksitasnya gejala,
maupun dalam sosiologi, digunakan pengamatan, percobaan,
dan perbandingan, dan bahkan metode
sejarah, ini digunakan untuk menguraikan gejala-gejala yang kompleks.
I. FUNGSI FILSAFAT POSITIVISME
Berdasarkan
uraian pada bagian terdahulu kiranya dapat dikatakan mengenai, fungsi filsafat positivisme yaitu :
1. Perkembangan
yang diberi konotasi sebagai kemajuan memberikan
makna bahwa positivisme telah mempertebal optimisme. Hal tersebut melahirkan pengetahuan yang positif yang terlepas dari pengaruh-pengaruh
spekulatif, atau dari hukum-hukum
yang umum. Berkat pandangan
positivisme orang'tidak sekedar menghimpun fakta, tapi ia berupaya meramal masa depan, yang antara lain turut mendorong perkembangan teknologi
2. Kemajuan dalam bidang fisik telah menimbulkan berbagai implikasi dalam segi kehidupan. Dengan
kata lain, fungsi filsafat positivisme ini berperan sebagai pendorong timbulnya perkembangan dan kemajuan yang
dirasakan sebagai kebutuhan.
3. Dengan adanya
penekanan dari filsafat positivisme terhadap
segi rasional ilmiah, maka berfungsi pula kemampuannya untuk menerangkan kenyataan, sedemikian rupa
sehingga keyakinannya akan kebenaran semakin terbuka.
4. Kelemahan
positivisme antara lain : (a) Hanya mampu melihat
manusia sebagai realitas barang atau benda, dan kurang
mampu melihat segi subjektifitasnya, sehingga dapat menjangkau aku, dari
kehidupan yang sebenarnya. (b) Faham positivisme
kurang mampu menjangkau segi historitas manusia
yang mengantarkan cara berpikir dan beraspirasi
atau memiliki pandangan tentang sesuatu. Sehingga
diketahui bahwa sebenarnya dengan aspirasi tadi manusia akan
dapat menuju kepada kemungkinan-kemungkinan
baru. (c) Faham positivisme tidak mampu menghayati manusia dalam hakekatnya yang monopluralistik, yaitu kesatuan atau keutuhan organik dari unsur-unsur yang tarafnya kimiawi, biologik, serta berakal, berasa, dan berkehendak.
Selain positivisme, kita
kenal pula bentuk-bentuk sekarang mengenai positivisme, seperti positivisme,
neopositivisme, positivisme kritis, atau disebut empiriocritisisme.
Neopositivisme ini dikembangkan oleh kelompok Wina, yakni
kelompok sarjana ilmu
pasti dan ilmu alam yang pada daswarsa 20-an
abad ke 20 mengecam filsafat yang bercorak rasional empiris belaka juga yang
spiritual saja. Usaha kelompok
Wina ini memperbaharui positivisme abad karya Agus Comte dan pengikutnya, yang dianggap diwarnai pemikiran yang bersifat dogmatis dan indoktrinasi
teo1ogi yang mengarah kepada
absolutisme.
Neopositivisme Wina menganggap bahwa satu-satunya
sumber pengetahuan yang benar adalah
pengalaman yang diatur menjadi ilmu alam dan ilmu pengetahuan yang akan
mendapatkan perannya yang nyata.
Tugas filsafat adalah membina dan menghilangkan
segala bentuk filsafat semu yang tak dapat memenuhi predikat serta mendukung ilmu pengetahuan.
Menurut kelompok Wina,
pengetahuan dianggap wajar apabila mendasarkan
dirinya pada pengamatan. Kelompok ini mengemukakan azas pembenaran yang mengatakan tidak ada pengetahuan
yang dianggap wajar, kecuali dengan adanya pengamatan, dan dalam pengamatanpun tergantung kepada ada-tidaknya hasil pengamatan yang
dibenarkan dan diperiksa secara empirik.
Neopositivisme mencita-citakan serta mempersiapkan
berkembangnya unified science yaitu ilmu pengetahuan yang utuh. Kesulitan yang dihadapi kelompok neopositivis antara lain
kapan basil pengamatan itu terpercaya, bagaimana menerapkan azas pembenaran, serta kapan pula sejumlah pengamatan
cukup diteliti agar pernyataan umum dapat dipercayai.
Sebagaimana
halnya filsafat lain, Neopositivisme memi1iki
kelemahan, yang antara lain
dikritik oleh Poppler. Menurut Popper, pada neopositivisme tak ada pengamatan dan
pemeriksaan empiris yang tertuju dan terarah pada dua tindakan
tersebut tanpa suatu prasangka. Justru cara kerja
ilmu-ilmu pengetahuan memperlihatkan hal itu secara nyata.
Popper tidak membedakan ada tidaknya ilmu dan ungkapan ilmiah.. Pendirian neopositivisme tentang
azas pembenaran untuk menentukan apakah suatu ungkapan mempunyai arti, ditolak Popper dianggap sebagai sebuah teori yang tidak mendasar bahkan cenderung sebagai ideologi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada hakikatnya
Positifisme
adalah salah satu aliran filsafat modern yang berpangkal dari fakta yang
positif.
Di negeri Perancis, telah muncul aliran
baru, yaitu "positivisme", yang ditikohi oleh Auguste Comte (1798 –
1857). Menurut Comte, jiwa dan budi adalah basis dari teraturnya
masyarakat. Maka, jiwa dan budi haruslah mendapatkan pendidikan yang cukup dan
matang. Dikatakan bahwa sekarang ini sudah masanya harus hidup dengan
pengabdioan ilmu yang positif, yaitu matematika, fisika, biologi, dan ilmu
kemasyarakatan. Adapun yang tidak positif tidak dapat kita alami, dan
sebaliknya orang bersikap tidak tahu menahu.
Adapun budi itu mengalami tiga tingkatan.
Tingkatan pertama adalah tingkatan teologi, yang menerangkan segala sesuatu
dengan pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab yang melebihi kodrat; tingkatan kedua
adalah tingkatan metafisika, yang hendak menerangkan segala sesuatu melalui
abstraksi; tingkatan ketiga adalah tingkatan positif, yang hanya memperhatikan
yang sungguh-sungguh serta sebab yang sudah ditentukan.
Tokoh-tokoh dalam positivisme antara
lain adalah H.Taine (1828 – 1893), yang mendasarkan diri pada positivisme dan
ilmu jiwa, sejarah, politik dan kesastraan. Emile Durkheim (1858 – 1917), yang
mengaggap positivisme sebagai asas sosiologi. John Stuart Mill (1806 – 1873),
seorang filosof Inggris yang menggunakan system positivisme pada ilmu
jiwa, logika, dan kesusilaan.
DAFTAR RUJUKAN
Ahmadi,
Asmoro. 1995. Filsafat Umum. Jakarta : Raja Grafindo Perkasa
Peurseun,
V, 1986, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Tiara Wacana
Bagus,
Lorens. 1991. Metafisika. Jakarta : Gramedia
Wibisono,
Koento, 1983, Arti Perkembanqan Menurut Filsafat Positivisme Auquste Comte, Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Bertens, K.
1973. Sejarah Filsafat Yunani. Jakarta : Kanisius
Suhartoni,
Suparlan. 2005. Sejarah Pemikiran Filsafat Modern. Jogjakarta : Ar-Ruzz
http://staff.blog.ac.id
http://united-akhied.blogspot.com/2012/11/filsafat-positivisme-auguste-comte.html
Komentar
Posting Komentar